Posting ini bukan menceritakan filmnya om Denzel Washington itu. Tapi, ini adalah cerita hari pertama training di Wageningen. Oh iya, kemarin aku lupa bilang kalo judul trainingnya: Climate Change Mitigation and Adaptation Training. Jadi yang diajarin ya seputar perubahan iklim, dari teori dasar, aplikasinya, pemodelan, dan juga data analisis. Cukup komplit juga. Selain itu, ada juga ekskursi ke beberapa tempat yang berhubungan dengan materi training seperti kunjungan ke KNMI (BMKG-nya Belanda), Wageningen University (mantan calon kampus yang sekarang jadi pertimbangan serius untuk S3), Cabauw (semacam stasiun meteorologi di De Bilt), dan River Waal. Ada juga ekskursi lain yang bersifat sosial (baca: hura-hura ga penting tapi jangan disamain sama anggota DPR ya) ke Keukenhof, Amsterdam, dan Zaansche Schans. Haha, seru deh membayangkan beberapa hari ke depan.
But hey, jangan salah. Fokus kita ke sini adalah untuk belajar. Jadi emang BMKG udah menekankan kalo sehabis kita balik dari training ini, kita harus bisa menghasilkan suatu produk yang berguna atau dapat diaplikasikan. Dan hari ini, semua peserta telah memberikan masing-masing ekspektasi yang ingin dicapai setelah mengikuti training ini. Semua cukup puas karena hampir semua ekspektasi itu dapat diakomodir oleh fasilitator di sini. Yah, mungkin tidak terlalu mendalam sih karena waktu 4 minggu itu pastinya kurang banget untuk dapat menggali semua materi. Setidaknya, kita udah diberikan bekal apa yang mesti kita ketahui dan jika ingin mempelajari lebih jauh lagi, kita bisa kontak fasilitator dan berkomunikasi lebih lanjut.
Selain materi yang bersifat teknis, dalam training ini juga diberikan materi buat trainer of trainee. Maksudnya, materi yang ditujukan buat calon pengajar atau orang yang sering berurusan dengan bagaimana memberikan presentasi, merancang kegiatan pelatihan, atau transfer pengetahuan. Nantinya, buat peserta yang berminat, diberikan materi tersendiri dan terpisah dari materi teknis.
Suasana training cukup seru. Semua peserta sangat aktif dalam memberikan opininya. Kelas juga berlangsung interaktif dan yang aku suka dengan training di luar negeri adalah hubungan antara fasilitator dan peserta yang lebih santai dan tidak terkesan seperti guru dan murid. Cuman sayangnya komunikasi antar peserta masih sering menggunakan Bahasa Indonesia. Harapanku sih training dilakukan dalam full english. Tapi, itu sih ga terlalu masalah, yang penting esensi dari training ini dapat tercapai.

*membayangkan kira2 apa yang akan kulakukan sebagai wakil dari Biro Umum di sana* kayanya mendalam banget ya.. kereen
ikut bayangin juga ah…