Guilty…..!!!!
Ketahuan banget saya malas update blog, secara beritanya ini sudah sukses berfermentasi ria karena telat hampir dua bulan. Tapi ga ada salahnya dong saya mau mendokumentasikan ke dalam sebuah posting, tentang apa yang terjadi selama 8 minggu di Jakarta. Biar agak rapi, saya tuliskan dalam beberapa bagian. Okeh, scroll down please…
The Course
Wahai para pemburu beasiswa, ketahuilah bahwa ADS itu baeeeek banget. Paket yang diberikan buat awardee-nya yahut karena setelah nama lo diumumkan sebagai penerima beasiswa, lo tidak begitu aja diberangkatin. Ngga, mereka akan memberikan pre-departure training yang dikemas dengan nama English for Academic Purposes (EAP). Sudah saya tuliskan sebelumnya bahwa tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris awardee, secara akademik, dan untuk memperbaiki nilai IELTS kita yang masih dalam status ‘menggantung’ itu (untungnya punya saya ngga, nanti kita akan sampe ke bagian itu). Tapi, selain English, kita juga ada pelajaran mengenai budaya dan lifestyle di Australia (diajarin sama Barbara), learning skill (porsinya Simone), trus komputer (kelasnya Mas Dedi), dan literature skill (with Mba Rina). Pokoke paket komplit deh. Nah, karena fokus utama EAP adalah kemampuan bahasa, maka udah pasti jam pelajarannya buat yang satu ini porsinya jauh lebih banyak. Dan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pelajaran, para awardee dibagi ke dalam beberapa kelas. Untuk para 8 weekers, ada 5 kelas dan saya dimasukin ke dalam kelas 8w5. FYI, pembagian kelas ini sebenarnya berdasarkan background dari awardee, misalnya ekonomi, finansial, hukum, lingkungan, dsb. Kalo kelas kita itu lebih ke environmental and development, karena ada yang ngambil topik lingkungan, tapi ada juga yang pembangunan, baik properti, manajemen, transportasi, dan ekonomi. Dengan ada pembagian ini, diharapkan awardee udah punya common ground sehingga proses brainstorming atau diskusi menjadi cepat nyambung. Tapi…
The Classmates
Takdir berkata lain. Untung nih ya, ga ada award post-review gitu. Kalo ada aja, bisa dipertimbangkan nih kelanjutan beasiswa buat 15 orang yang ada di 8w5. Why? Kelas kita ternyata rusuh banget… Huahahaha, gak nyangka koq para staff di ADS udah punya feeling kalo 15 orang ini sebaiknya diasingkan dari awardee-awardee lainnya. Yah, tapi ini juga yang bikin seru karena tau ngga 8 minggu itu bukan waktu yang singkat dan bisa jadi sangat membosankan bila harus berhadapan dengan kegiatan yang monoton bersama 14 orang lain. Thanks God, I’ve a wonderful group of classmates. 8 minggu yang menyiksa menantang itu bisa kita lalui dengan hepi. Tambahan lagi…
The Teacher
Bukan guru biasa. Namanya Nigel, orang British tulen yang sebetulnya ngerti Bahasa Indonesia, tapi ga pernah ditunjukin. Dia ini, ngocolnya puooollll. Padahal nih, waktu pertama kali liat, orangnya koq dingin gitu. Trus kata teman yang pernah tes speaking sama dia, orang ini ga ada ekspresi sama sekali. Eh eh ternyata sodara-sodara, orangnya gokil abis. Kita di kelas nih ya berpendapat, hal terbaik yang kita dapat di kursus, selain stipend bulanan tentunya
, adalah mendapatkan Nigel sebagai guru kita. Metode ngajarnya sih ga begitu spesial, tapi cara penyampaiannya ga bosenin dan dia selalu punya trik untuk membuat kita selalu tertawa. However, banyak gosip beredar diluaran kalo dia ini ga terlalu disukai sama awardee (terutama 8 weekers) dari kelas lain karena ya itu, dia keliatan unfriendly dan cool. But not for us, hahahaha…
The IELTS
The test will be hovering you around at the end of the course. Yap, alasan kenapa kita terdampar di kelas 8 minggu adalah nilai IELTS kita. Sebetulnya, berdasarkan nilai rata-rata, kita udah memenuhi syarat untuk langsung didaftarkan ke universitas di Australia, karena IELTS kita sudah 6.5 atau 7. Tapi, sebagian besar kampus di sana memiliki banyak persyaratan tambahan dari sekedar nilai rata-rata itu saja. Aduh lupa, kalo ada yang ga familiar dengan IELTS, ini semacam tes kemampuan Bahasa Inggris yang menguji seseorang di empat aspek: Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Keempatnya dites secara terpisah tapi ntar nilainya dirata-ratakan untuk dapet nilai Overall. Nah, kampus di Aussie itu kebanyakan minta kalo semua komponen penilaian tidak ada yang berada di bawah 6. Cilakanya, 8 weekers itu punya salah satu atau salah dua komponen yang nilainya masih 5.5 ke bawah. Kebanyakan sih di writing. Kalo saya waktu tes kemarin kebetulan jatuhnya di speaking, masih dapet 5.5 euy.
Selama kursus, kita digembleng ditempa diajarkan untuk memperoleh nilai semaksimal mungkin di semua komponen. Jadi ada sesi kita latihan listening dan reading dari modul tes IELTS, latihan buat essay untuk writing, dan speaking yang ga perlu disuruh latihan lagi karena kita selama di sana harus terbiasa menggunakan English sebagai bahasa pengantar. Sepertinya nih, semua pengajar di sana menaruh perhatian lebih pada writing. Emang karena sebagian besar 8 weekers, dan juga 3 monthers, dan juga 6 monthers, banyak gagal di bagian yang satu ini. Sedikit gambaran mengenai tes writing di IELTS, untuk tipe akademik, kamu akan disuruh membuat dua buah essay, satu essay 150 kata dari diagram/grafik/gambar/proses, dan satu essay 250 kata tentang opini. Kamu diberi waktu 1 jam untuk menyelesaikan keduanya dengan alokasi waktu terserah kamu, tapi sebaiknya 20 menit untuk essay pertama dan 40 menit essay kedua.
Writing ini sebenarnya agak tricky. Kita ga cuma disuruh asal nulis dengan jumlah kata yang memenuhi syarat trus selesai. Kita harus nulis dengan gaya akademis, artinya terstruktur, pilihan kata yang baik, dan tentu aja grammar yang tepat. Saya dulu berpikir kalo saya sebenarnya tidak bermasalah dengan bagian ini. Bahkan waktu dulu terima hasil IELTS pertama cuman dapet 6.0, saya agak kecewa karena sebetulnya saya bisa lebih baik lagi. Baru pas belajar gimana essay yang baik itu , saya sadar kalo essay yang dulu masih banyak kekurangannya. Saya pun bertekad, untuk menaikkan level writing saya ke jenjang yang lebih baik lagi. Dan ternyata saya dapet tambahan motivasi lain untuk memperbaiki writing skill saya.
Sekitar pertengahan Agustus, para awardee harus mengirimkan pilihan universitas yang mereka tuju untuk melanjutkan studi. Kita boleh kirimkan dua pilihan, boleh dari kampus yang sama atau dua-duanya berbeda. Pilihan pertama adalah prioritas, sedangkan pilihan kedua kalo kita ga qualified untuk yang pertama. Karena masih terganjal dengan syarat IELTS, sebagian besar akan menerima conditional offer, yang artinya secara administratif berkasnya udah masuk tapi belum diterima karena masih harus memperbaiki nilai IELTS. Dan saya, ternyata pas ketemu sama liaison officer calon kampus saya waktu sesi Information Day, mereka bilang kalo IELTS saya itu udah memenuhi syarat. Trus waktu saya e-mail program managernya, dia malah bilang ga usah pikirin pilihan kedua lagi. Go for it! Huahahaha, saya dong seneng, langsung mantap nulis pilihan pertama. Pilihan kedua sebenarnya agak dilema, tapi.. what the hell, I will get the first choice for sure. Dan bener, sekitar sebulan kemudian saya udah dapat full offer, yang artinya saya ga perlu nunggu hasil IELTS yang baru keluar bulan depannya lagi. Tapi, karena full offer udah di tangan, saya berasa ada yang kurang dari kursus ini, secara hasil IELTS di akhir kursus nanti toh gak akan ngaruh. Oleh sebab itu, saya netapin target sendiri, kalo dites IELTS nanti saya mau dapet 7.0 di writing.
Figuratively speaking, someone could kill to get their writing 6.0. Iyah, angka 6 di writing itu jadi angka kramat karena bagi sebagian orang, nilai ini susaaah banget. Lha koq saya dengan berani menargetkan dapet nilai 7.0? Ini tidak lain dan tidak bukan karena motivasi dari Nigel. Komen-komennya benar-benar mendorong saya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik…. ‘It’s all there.. you know it’… ‘Have you read Alberth’s essay? oh, he’s a champion’… ‘You got Alberth’s, careful, he’s good’… Tapi, ada sedikit permasalahan, essay saya itu tidak konsisten. Maksudnya saya membuat bagian awal essay dengan baik, tapi di pertengahan dan akhir sedikit berantakan, terutama grammarnya. Nigel pernah memberi komentar ‘You have the best opening of all, but this (sambil nunjuk halaman belakangnya yang banyak coretan tinta merah) was a little bit dissapointed.’ Waktu sesi private consultation, Nigel bilang ‘I think you have no problem with other parts (listening, reading, dan speaking) and for writing, you deserve to get band 7, but you have to work on your ending. Otherwise, band 6. Do you want band 7?’ Jawabanku band 7 tentunya. Dan saya sadar kalo saya terlalu banyak berpikir untuk bagian-bagian awal essay dan akibatnya menyisakan sedikit waktu untuk menyelesaikan bagian akhir. So, time management is the key.
Hasil kursus semuanya terjawab tanggal 20 Oktober. Resminya sih tanggal 21 baru kita dapat sertifikat hasil IELTS, tapi satu hari sebelumnya pengumuman sudah bisa diliat secara online. Karena waktu itu ga bawa laptop, saya coba buka lewat hape. Sempat frustasi karena koq ga bisa diakses, tapi pas sukses saya langsung terpana. Yang keliat duluan adalah overall scorenya 7.5, tapi yang bikin lebih surprise adalah hasil writingnya: 7.5. Hwaaahhhh, sukses! Hmm, tapi sayang ternyata banyak teman-teman yang masih terganjal di writing-nya. Beberapa harus tes ulang dengan biaya sendiri (dan kemudian sukses, hore!!!), ada yang pindah ke pilihan kedua, tapi ada juga yang mau defer. Mudah-mudahan semuanya mendapatkan yang terbaik deh.
Devil’s in the detail
Setelah kursus beres, tinggal urusan administrasi di kantor dan kedutaan. Jadi sekarang, statusnya saya tinggal nunggu paspor, visa, tiket, dan SK Tugas Belajar. Hopefully, semuanya berjalan dengan lancar sehingga rencana bulan Januari berangkat bisa terlaksana. Agak ribet emang yang satu ini karena mesti berurusan dengan birokrasi. Yah, moga-moga aja semuanya diberikan kemudahan. Besides, I have a partner most helpful! Mba Clara… Dankeschoen!!!


No wonder you love Nigel so much, Champion…! #rolling eyes
Nigel is nice… I was once caught in the act by him, when I was peeping to his class (he was having an IELTS speaking test with my friend) and he accused me of stealing probation, wkwkwk… If only I had no idea of his sense of humor, I might end up crying, hahaha…
Bitte Schoen Schatz, and with this ‘helpful’ compliment, it seems like I’m not supposed to refuse your future request to bring the passport to mas Ponco also #hammers
Mba.. you really are a psychic… you already know what I want to ask, so if you don’t mind… huehehe…
AAAA… COngrats ya
. Jadi pengen daftar ADS euy
. I didn’t make it with DAAD for this year, which give me a stronger motivation to apply for other scholarship(S) next year.
Jadinya kemana? ANU?
Thanks ^^
Iya, jadinya ke ANU, banting setir ke Climate Change.
Well, sometimes a failure will lead to a great success in the future. Hmmm, tapi Eropa emang sedang gloomy banget, e.g. StuNed cuts their awards and no pre-registration application this year.